Total Tayangan Halaman

Selasa, 10 Januari 2017

Gerakan Anti Korupsi Bisa Sederhana, tetapi Bermakna

Gerakan Anti Korupsi Bisa Sederhana, tetapi Bermakna

Detail Diterbitkan pada Jumat, April 22 2016 00:00 Dibaca: 1658

JAKARTA - Gerakan anti korupsi kerap dianggap sebagai hal yang serius dan maskulin karena mayoritas dilakukan oleh laki-laki. Namun, sebenarnya, gerakan anti korupsi yang melibatkan perempuan juga bisa dilakukan melalui cara-cara sederhana, tetapi bermakna.

Dalam diskusi "Korupsi, Politik Sumber Daya, dan Perempuan" di kantor Indonesia Corruption Watch (ICW), Jakarta Selatan, Kamis (21/4), penggiat anti korupsi dari ICW, Sely Martini, mengatakan, peran perempuan sebagai anggota keluarga dalam pemberantasan korupsi dapat dilakukan di antaranya dengan mengingatkan anak-anak untuk tak melakukan hal merugikan atau merampas hak orang lain.

Menurut Sely, sejak 2015, ICW memiliki program parenting anti korupsi, yaitu menanamkan nilai-nilai luhur kepada anak. ICW secara aktif juga merangkul sejumlah komunitas yang bergerak di bidang kreatif guna memperluas gerakan anti korupsi. Salah satu contoh, keterlibatan ICW dan sejumlah komunitas mengumpulkan cap tangan saat peringatan Hari Antikorupsi di Bandung, Desember 2015.

Sely menambahkan, secara luas, korupsi merupakan kejahatan luar biasa yang sebenarnya biasa terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu, pemberantasannya pun harus luar biasa. "Anti korupsi bukan hanya persoalan menangkap koruptor, melainkan membangun masyarakat agar berintegritas," katanya.

Aktivis Ecosister, Siti Maemunah, menyoroti eksploitasi galian tambang di Samarinda, Kalimantan Timur, oleh sejumlah perusahaan, yang memakan korban anak-anak. Selain merusak lingkungan, perempuan yang merupakan ibu korban juga tak mendapat tanggungan.

"Ini menunjukkan korupsi tak hanya soal penyalahgunaan APBN atau APBD, tetapi juga perihal kerugian sosial yang dirasakan masyarakat, khususnya perempuan," kata Maemunah.

Adapun sineas Sammaria Simanjuntak berbicara soal pentingnya menyuarakan hal-hal yang perlu disebarkan, salah satunya perlawanan korupsi. Sebagai sineas, visualisasi cerita yang berkaitan dengan masyarakat harus ditempuh dengan sederhana agar dapat diterima dengan baik oleh publik.

Sebelum diskusi dimulai untuk memperingati Hari Kartini itu, hadir 15 perempuan yang melakukan aksi teatrikal "Gerakan Perempuan Melawan Korupsi".

Sumber : Kompas, 22 April 2016


http://kpk.go.id/id/berita/berita-sub/3402-gerakan-anti-korupsi-bisa-sederhana-tetapi-bermakna

Tidak ada komentar:

Posting Komentar