CATATAN DARI Pekan Anti-Korupsi 2013

Detail Diterbitkan pada Jumat, Desember 13 2013 17:23 Dibaca: 2791
img4b26fb2f9879fBerbagai kegiatan digelar mulai dari lelang barang gratifikasi sampai pojok dongeng anti-korupsi. "Berantas korupsi mulai dari yang paling kecil, yakni berkata jujur,” demikian kata Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Abraham Samad, Senin (9/11). Ia membuka acara bertajuk Pekan Anti Korupsi 2013 yang digelar pada 9-11 Desember 2013. KPK sengaja menghelat acara ini berbarengan dengan Hari Antikorupsi Sedunia yang jatuh pada 9 Desember. Bertempat di Istora Senayan, Jakarta, ajang ini berusaha mengajak masyarakat untuk sama-sama memerangi korupsi.
Mereka pun mengemas rangkaian acara sedemikian rupa agar tak menjadi ajang yang terlalu serius dan membosankan. Mulai dari panggung musik anti-korupsi sampai pameran dan lelang barang-barang gratifikasi. Berbagai instansi pemerintah juga mengisi booth yang memamerkan langkah yang sudah dan akan mereka lakukan untuk memberantas kejahatan korupsi.
Di deretan barang-barang yang dipamerkan, mereka memajang baju tahanan KPK yang diberi catatan kecil di sisinya, “Dilihat boleh dipakai jangan.” Bas pemberian basis Metallica Robert Trujillo untuk Gubernur DKI Joko Widodo ikut dipajang di sana.
Jokowi sempat antusias ingin ikut lelang bas tersebut agar bas bermerek Ibanez itu bisa jadi miliknya secara legal. Sayangnya, KPK urung melelang bas bertuliskan “Giving Back” dan ditandatangani Trujillo itu karena dianggap unik dan punya nilai tersendiri. Barang itu dipajang untuk jadi pembelajaran bagi pejabat lainnya agar berani mengakui dan menyerahkan barang gratifikasi.
Di acara ini, KPK melelang sebanyak 78 barang yang beres dalam jangka waktu dua jam. Barang yang dilelang pun beragam, mulai dari jam tangan, lukisan, kain sutra, hingga berbagai jenis ponsel. Di Pekan Anti Korupsi 2013, pengunjung bisa mengambil gambar dengan foto pimpinan KPK yang dicetak seperti aslinya. Booth foto ini cukup menarik banyak pengunjung yang dengan semringah bergaya dengan Abraham Samad cs. Mengajarkan nilai anti-korupsi sejak kecil, panitia punya sederet acara untuk anak-anak. Terdapat taman bermain, taman berkolaborasi, juga taman bacaan yang khusus ada untuk mereka.
Bagi anak usia balita, ada pojok dongeng. Tersedia pula buku-buku bergambar dengan tema budaya berlaku jujur. Narifah (32 tahun), salah satu pengunjung, menunggui sang anak yang tengah didongengi. Anaknya yang masih mengenyam pendidikan anak usia dini (PAUD) di Slipi, Jakarta Barat, bersama teman-temannya datang diundang panitia untuk program dongeng. “Isi dongengnya sederhana dan mudah dimengerti anak-anak,” kata dia.
Di pojok ruangan lainnya, penyelenggara menyediakan ruang pemutaran film. Bahkan, terdapat tiga studio dadakan yang memutarbberbagai jenis film. Mulai dari film dokumenter hingga film yang masuk dalam Anti Corruption Film Festival (Acffest), juga pemutaran film animasi untuk anak.
Demi menarik pengunjung remaja, mereka juga menggelar panggung musik anti-korupsi yang diisi oleh band Efek Rumah Kaca, Kikan Namara, Yovie Widianto, dan stand up comedy. Panggung ini cukup sukses menarik perhatian pengunjung.
Tak ketinggalan ada sesi serius di acara ini. Di antaranya, Seminar Nasional Koordinasi dan Supervisi Bidang Pencegahan, talk show Gratifikasi dan Laporan Harta Kekayaan, dan diskusi publik dengan tema “Mengkritisi Kekayaan Pejabat Negara”.
Di luar acara ini, KPK juga tergolong aktif menggelar acara-acara serupa. Misalnya, kunjungan ke sekolah-sekolah dan mendorong mata kuliah anti-korupsi yapg sudah diterapkan di beberapa universitas sejak 2010. Mata kuliah ini sudah diadopsi Institut Teknologi Bandung (ITB) dan Universitas Paramadina.
Randi Budi Wicaksono, mahasiswa ITB yang pernah mengambil mata kuliah itu, menuturkan, kuliah itu punya banyak manfaat. “Mata kuliahnya tak cuma teori, ada diskusi khusus, tugas langsung, dan aplikasi,” kata mahasiswa semester sembilan ini. Para mahasiswa juga diajak berbagi ide soal penanganan korupsi yang semakin parah.
Ia mengaku menjadi disadarkan soal hal-hal kecil yang banyak dilakukan mahasiswa yang merupakan cikal bakal korupsi yang lebih serius. Titip absen, korupsi waktu kuliah, korupsi uang buku, atau nyogok polisi ketika ditilang adalah beberapa di antaranya. “Mencegah korupsi harus dimulai dari diri sendiri,” ucapnya saat ditemui di acara pameran.
Sumber: Republika, 13 Desember 2013
https://www.kpk.go.id/id/berita/berita-sub/1571-catatan-dari-pekan-anti-korupsi-2013
Tidak ada komentar:
Posting Komentar