Total Tayangan Halaman

Minggu, 14 Mei 2017

Ketua LMP Sulsel Perlakuan Ketua Marcab Tidak Manusiawi

Ketua LMP Sulsel Perlakuan Ketua Marcab Tidak Manusiawi

Teka teki siapa yang yang pertama mendapatkan Surat Keputusan (SK) dari Markas Besar (MABES)  Forum Bersama Laskar Merah Putih (FB LMP) di Jakarta kini terkuak. Awalnya bermula pejuang LMP yang mempersatukan visi    dalam Forum . Semua Markas Cabang menginginkan tidak lagi metode kepimpinan Irwan Adnan, minus Ketua Makassar dan Ketua Pangkep yang dilantik.. 

Ada 12 Ketua Marcab hadir didalam rapat Mosi Tidak Percaya kepada Ketua Mada Sulsel. Sedangkan  Ketua dari Tana Toraja, Jansen Saputra Godjang nanti dapat bergabung hari berikutnyanya karena ada kendala dan mengikuti undangan Mada SULSEL . Ternyata tidak ada ketua Marcab yang lain hadir dan tidak tidak ada yang takut ancaman Ketua Mada.

Cek per cek mengapa tidak ada ketua antusias mengikiti pertemuan bergengsi dengan janji fasilitas seperti ongkos transportasi ke Makassar dan pulang dan tidak takut ancaman Ketua Marcab ternyata jawabannya karena selama ini mereka tidak diperlakukan manusiawi sebagai Pengurus Cabang.

Padahal mereka semua adalah orang lama dan pernah terlibat dalam perkembangan LMP. Mereka rata rata pernah ikut  agenda nasional LMP seperti Kongres, Fortanas, Mubes, dan apalagi Rakernas. Mereka mulai menumpahkan uneg uneg sejak masuk FB LMP sampai, dan pada kepemimpinan Irwan Adnan yang paling manusiawi.

Mereka ditutupkan telpon saat ingin berkomunikasi dan melaporkan kendala di daerahnya. Mereka juga mendapat ancaman akan diganti begitu saja dan tanpa alasan jika tidak patuh kepada ketua.  Mereka juga langsung diganti tanpa rapat dan  tanpa peringatan dan surat Teguran.

Padahal kami adalah orang telah berdarah darah berjuang di LMP.  Perjuangan kami tidak baru kemarin sore. Seperti saat masuknya rombongan Ketua masuk di LMP. Dari dulu kami Berjuang untuk mengembangkan organisasi ini dengan segenap kemampuan dan kemampuan terbatas. Celoteh Jansen Saputra Godjang, Ketua Tana Toraja.

Apalagi saya ini orang yang paling lama di Laskar di Sulsel. Saya sangat kenal almarhum Ketua Umum dan Sekretaris Jenderal Erwin Mangun. Aku dapat SK Mada SULSEL saat bermarkas di Pintu Air Nomor 28 A Pasar Baru Jakarta Pusat.

Ini bisa dibuktikan dengan SK Mabes tertulis Markas Besar Forum Bersama Laskar Merah Putih yang diperlihatkan lewat WhatsApp . Disitu tertulis bahwa Surat Keputusan ini menyebutkan Jansen Saputra Godjang  sebagai Ketua dan Akbar Endra sebagai  Sekretaris dengan Sekretariat beralamat di jalan A. Mappanyukki K 28  Makassar dan ditanda tangani  Tertanggal 25 Februari 2004 oleh Eddy Hartawan dan Erwin Mangun.

Memang Jansen Saputera Godjang sangat antusias dalam mengikuti Rakernas di Medan. Memang terlihat bahwa jiwa Laskar Merah Putih seperti meletup meski dia sendiri Marcab yang berminat ikut tanpa izin dari Mada Sulsel. Dia berangkat sendiri dengan dana sendiri . Ia berangkat ke Medan 2 hari labuh cepat, Padahal biayanya kesana besar sekali, demi untuk menjaga sejarah, katanya Sekretaris Mada Sulsel

Pantas kalau dia ternyata orang pertama di Sulsel yang mendapat kepercayaan untuk menakhodai dari orang yang menjadi Ketum Pertama, sekaligus pendiri, penggagas Laskar Merah Putih. Terimakasih atas telah menjaga Sejarah Bang Jansen Saputra Godjang.

Terkuak Sejarah FB LMP SULSEL Siapa SK Pertama di Sulsel

Terkuak Sejarah FB LMP SULSEL Siapa SK Pertama di Sulsel

Teka teki siapa yang yang pertama mendapatkan Surat Keputusan (SK) dari Markas Besar (MABES)  Forum Bersama Laskar Merah Putih (FB LMP) di Jakarta kini terkuak. Awalnya bermula pejuang LMP yang mempersatukan visi    dalam Forum . Semua Markas Cabang menginginkan tidak lagi metode kepimpinan Irwan Adnan, minus Ketua Makassar dan Ketua Pangkep yang dilantik.. 

Ada 12 Ketua Marcab hadir didalam rapat Mosi Tidak Percaya kepada Ketua Mada Sulsel. Sedangkan  Ketua dari Tana Toraja, Jansen Saputra Godjang nanti dapat bergabung hari berikutnyanya karena ada kendala dan mengikuti undangan Mada SULSEL . Ternyata tidak ada ketua Marcab yang lain hadir dan tidak tidak ada yang takut ancaman Ketua Mada.

Cek per cek mengapa tidak ada ketua antusias mengikiti pertemuan bergengsi dengan janji fasilitas seperti ongkos transportasi ke Makassar dan pulang dan tidak takut ancaman Ketua Marcab ternyata jawabannya karena selama ini mereka tidak diperlakukan manusiawi sebagai Pengurus Cabang.

Padahal mereka semua adalah orang lama dan pernah terlibat dalam perkembangan LMP. Mereka rata rata pernah ikut  agenda nasional LMP seperti Kongres, Fortanas, Mubes, dan apalagi Rakernas. Mereka mulai menumpahkan uneg uneg sejak masuk FB LMP sampai, dan pada kepemimpinan Irwan Adnan yang paling manusiawi.

Mereka ditutupkan telpon saat ingin berkomunikasi dan melaporkan kendala di daerahnya. Mereka juga mendapat ancaman akan diganti begitu saja dan tanpa alasan jika tidak patuh kepada ketua.  Mereka juga langsung diganti tanpa rapat dan  tanpa peringatan dan surat Teguran.

Padahal kami adalah orang telah berdarah darah berjuang di LMP.  Perjuangan kami tidak baru kemarin sore. Seperti saat masuknya rombongan Ketua masuk di LMP. Dari dulu kami Berjuang untuk mengembangkan organisasi ini dengan segenap kemampuan dan kemampuan terbatas. Celoteh Jansen Saputra Godjang, Ketua Tana Toraja.

Apalagi saya ini orang yang paling lama di Laskar di Sulsel. Saya sangat kenal almarhum Ketua Umum dan Sekretaris Jenderal Erwin Mangun. Aku dapat SK Mada SULSEL saat bermarkas di Pintu Air Nomor 28 A Pasar Baru Jakarta Pusat.

Ini bisa dibuktikan dengan SK Mabes tertulis Markas Besar Forum Bersama Laskar Merah Putih yang diperlihatkan lewat WhatsApp . Disitu tertulis bahwa Surat Keputusan ini menyebutkan Jansen Saputra Godjang  sebagai Ketua dan Akbar Endra sebagai  Sekretaris dengan Sekretariat beralamat di jalan A. Mappanyukki K 28  Makassar dan ditanda tangani  Tertanggal 25 Februari 2004 oleh Eddy Hartawan dan Erwin Mangun.

Memang Jansen Saputera Godjang sangat antusias dalam mengikuti Rakernas di Medan. Memang terlihat bahwa jiwa Laskar Merah Putih seperti meletup meski dia sendiri Marcab yang berminat ikut tanpa izin dari Mada Sulsel. Dia berangkat sendiri dengan dana sendiri . Ia berangkat ke Medan 2 hari labuh cepat, Padahal biayanya kesana besar sekali, demi untuk menjaga sejarah, katanya Sekretaris Mada Sulsel

Pantas kalau dia ternyata orang pertama di Sulsel yang mendapat kepercayaan untuk menakhodai dari orang yang menjadi Ketum Pertama, sekaligus pendiri, penggagas Laskar Merah Putih. Terimakasih atas telah menjaga Sejarah Bang Jansen Saputra Godjang.

Sabtu, 13 Mei 2017

Memangnya LMP Ini Milik Pribadi Ketua


Memangnya LMP Ini Milik Pribadi Ketua

Pinrang adakah Pemegang Kunci Sejarah LMP di Sulsel. Betapa tidak, Ketua Markas Cabang Kabupaten Pinrang merupakan  yang tertua di wilayah ini. Bahkan Marcab Pinrang kelahiran jauh mendahului Markas Daerah Sulawesi Selatan. Tutur Sekretaris Pinrang, Ir. H. Andi Aris Mangga di sela sela kunjungan ke Sekretariat yang baru di Serigala 32 Makassar.

Tahun 2008, sebenarnya sudah ada Laskar Merah Putih (LMP) dibawah oleh almarhum Jenggo Effendy yang tinggal di kota Palopo. Namun dia tak mampu menyusun kepengurusan akibat aktivitas yang banyak diluar. Lagian, dia kurang banyak kenal teman teman aktivitas Makassar. Sedangkan pesan Ketum Eddy Hartawan almarhum, untuk mensosialisasi LMP ke Sulsel, kita rekruit aktivis.

Alasan Ketum Eddy Hartawan adalah semangat yang menyala nyala dalam diri mahasiswa, yang tidak akan ditemui pada orang lain. Selain itu, lagi lagi berkibarnya semangat aktivitis akibat turun bersama menurunkan regim Suharto. Kita butuh aktivis yang mampu mengembangkan organisasi LMP yang Nasionalis.

Tapi dasar Jenggo tak punya waktu, dan dia tak mampu menyusun struktur membuat ia kendala menakhodai Sulsel dengan baik. Sedangkan Ketum adalah orang progresif yang ingin melihat perkembangan. Setelah 3 bulan diberi kesempatan, akhirnya diminta merekrut Aktivitis Makassar agar laju LMP tidak lamban seperti ini.

Saat diberi kesempatan, Jenggo juga tak bisa memanaje organisasi baru ini. Jangankan membentuk beberapa Marcab Forum Bersama LMP di daerah, pengurusnya belum kela. Akibatnya, dia mempercayai Aktivis Makassar dengan pertimbangan Ketum almarhum yaitu semangat aktivitis yang tidak bisa diragukan lagi. Mereka telah menumbangkan rezim orde baru dengan semangat yang radikal. Alasan kedua, Jenggo tak bisa mengendalikan FB LMP dari kota Palopo, tapi sentral SULSEL ternyata 400 Kilo meter dari Makassar, ibukota Sulsel. Dua hal ini alasan Ketum almarhum memutuskan kepercayaan kepada yang muda.

Taufiq Hidayat, Atok Suharto, Andi Noer Aliem, Muskarnain Yunus, yang memang aktif mengikuti LMP dalam membebaskan Srikandi Manohara Pinot di diberita , mengambil alih dan komunikasi gencar dengan Mabes. Berangkat utusan ke Mabes dan meminta arahan selanjutnya dan bagaimana posisi Jenggo. Akhirnya kelompok muda berhasil mengambil alih .

Dalam waktu jeda dan terpesona dengan tindak tanduk KETUM, Dr. Sulthani, dan karena tidak adanya yang dapat dihubungi di Makassar, beliau terbang ke Jakarta untuk minta mandat untuk membentuk FB LMP MARCAB Pinrang. Ia akhirnya membawa sendiri Struktur Pinrang ke Mabes karena belum adanya Mada FB LMP yang sah dan ada SK yang dapat dijadikan patokan.

Kami memang lebih tua dibandingkan Mada Sulsel. Meskipun kami anak, kami lebih dulu lahir dibandingkan Sulsel. Kami lebih dulu mengenyam garam organisasi, makanya dulu kurang harmonis dengan Mada SULSEL. Jelas Sekretaris, Ir Andi Aris Mangga.

Sekretaris Pinrang yang ikut Rapat Mosi Tidak Percaya terhadap Irwan Adnan, Ketua Mada Sulsel, menambahkan kami kecewa dengan sikap sebagai ketua tak menghargai aturan organisasi. Dari dulu, persyaratan bertandatangan ketua dan sekretaris. Atau wakil ketua dengan Sekretaris atau ketua dan Wakil Sekretaris untuk menjaga Dwi Tunggal dalam organisasi. Tidak pernah dalam Laskar, bertandatangan ketua saja sendiri. Ini menunjukkan ada tendensi berorganisasi. Kasian, padahal Scan tanda tangan bisa membantu. Tidak boleh sendiri bertandatangan.

Beberapa kali ke Makassar berkunjung, tidak pernah ketemu ketua. Handphonenya tidak pernah diangkat. Dia juga tak pernah ada Sekretariat di Jl Anuang 34. Lucunya, Markas ini tidak seperti markas LMP. Tertutup sepanjang hari, sehingga tak ada waktu untuk silaturahmi dengan pengurus Mada, apalagi Ketua, jangan mimpi ketemu. Jengkel nadanya

Coba bandingkan dengan aktivitas di Pintu Air, Petojo dan Jatinegara, Ketua Umum setiap saat bisa ditemui setiap saat. Bahkan sampai jam 2 kalau kita penting. Beliau menganggap silaturahmi dengan Saudara seluruh Indonesia sebagai tanggung jawab sebagai ketua. Besar volume suaranya pertanda emosi ditahan.

Ketum H. Adek Erfil Manurung SH dan M. Arsyad Cannu, Ketua Harian Mabes LMP sempat mengunjungi Marcab Pinrang dan terus ke Enrekang , Tana Toraja dan Toraja Utara. Dengan ketidakhadiran ketua Mada
Sulsel dengan berbagai alasan. Padahal jauh jauh ke Pinrang di kampung Ketua Harian, seharusnya sebagai Ketua, dia seharusnya menempel Ketum setiap saat sampai pulang ke Jakarta. Harapnya Sekretaris Pinrang.

Memangnya LMP milik pribadi ketua, sehingga ditutup setiap saat. Atau kita dianggap pencuri yang datang di Sekretariat. Kami yang datang dari kampung atau Daerah bagaimana mana harapkan bermalam di Sekretariat jika tertutup setiap saat. Kami kecewa berat dengan perlakuan Mada dan Ketua Mada yang tidak pernah menemui Ki. Tambahnya

"Bagaimana kami melaporkan ada sesuatu dan hal yang penting dengan menelpon, kakinya ditutup jika tahu nomor pengurus dari daerah. Bagaimana ketua begini yang dipercayai ini memimpin kalau tidak mampu berkomunikasi." Kata pengusaha ini

Ia menghabiskan pembicaraannya dengan harapan nantinya Ketua pengganti dapat menerima setiap saat seperti Ketum. Ia juga harus memiliki menemaninya untuk berdiskusi. Selain itu, ketua baru harus meluangkan waktu ke daerah untuk road show untuk melihat kami di daerah

Memangnya LMP Ini Milik Pribadi Ketua


Memangnya LMP Ini Milik Pribadi Ketua

Pinrang adakah Pemegang Kunci Sejarah LMP di Sulsel. Betapa tidak, Ketua Markas Cabang Kabupaten Pinrang merupakan  yang tertua di wilayah ini. Bahkan Marcab Pinrang kelahiran jauh mendahului Markas Daerah Sulawesi Selatan. Tutur Sekretaris Pinrang, Ir. H. Andi Aris Mangga di sela sela kunjungan ke Sekretariat yang baru di Serigala 32 Makassar.

Tahun 2008, sebenarnya sudah ada Laskar Merah Putih (LMP) dibawah oleh almarhum Jenggo Effendy yang tinggal di kota Palopo. Namun dia tak mampu menyusun kepengurusan akibat aktivitas yang banyak diluar. Lagian, dia kurang banyak kenal teman teman aktivitas Makassar. Sedangkan pesan Ketum Eddy Hartawan almarhum, untuk mensosialisasi LMP ke Sulsel, kita rekruit aktivis.

Alasan Ketum Eddy Hartawan adalah semangat yang menyala nyala dalam diri mahasiswa, yang tidak akan ditemui pada orang lain. Selain itu, lagi lagi berkibarnya semangat aktivitis akibat turun bersama menurunkan regim Suharto. Kita butuh aktivis yang mampu mengembangkan organisasi LMP yang Nasionalis.

Tapi dasar Jenggo tak punya waktu, dan dia tak mampu menyusun struktur membuat ia kendala menakhodai Sulsel dengan baik. Sedangkan Ketum adalah orang progresif yang ingin melihat perkembangan. Setelah 3 bulan diberi kesempatan, akhirnya diminta merekrut Aktivitis Makassar agar laju LMP tidak lamban seperti ini.

Saat diberi kesempatan, Jenggo juga tak bisa memanaje organisasi baru ini. Jangankan membentuk beberapa Marcab Forum Bersama LMP di daerah, pengurusnya belum kela. Akibatnya, dia mempercayai Aktivis Makassar dengan pertimbangan Ketum almarhum yaitu semangat aktivitis yang tidak bisa diragukan lagi. Mereka telah menumbangkan rezim orde baru dengan semangat yang radikal. Alasan kedua, Jenggo tak bisa mengendalikan FB LMP dari kota Palopo, tapi sentral SULSEL ternyata 400 Kilo meter dari Makassar, ibukota Sulsel. Dua hal ini alasan Ketum almarhum memutuskan kepercayaan kepada yang muda.

Taufiq Hidayat, Atok Suharto, Andi Noer Aliem, Muskarnain Yunus, yang memang aktif mengikuti LMP dalam membebaskan Srikandi Manohara Pinot di diberita , mengambil alih dan komunikasi gencar dengan Mabes. Berangkat utusan ke Mabes dan meminta arahan selanjutnya dan bagaimana posisi Jenggo. Akhirnya kelompok muda berhasil mengambil alih .

Dalam waktu jeda dan terpesona dengan tindak tanduk KETUM, Dr. Sulthani, dan karena tidak adanya yang dapat dihubungi di Makassar, beliau terbang ke Jakarta untuk minta mandat untuk membentuk FB LMP MARCAB Pinrang. Ia akhirnya membawa sendiri Struktur Pinrang ke Mabes karena belum adanya Mada FB LMP yang sah dan ada SK yang dapat dijadikan patokan.

Kami memang lebih tua dibandingkan Mada Sulsel. Meskipun kami anak, kami lebih dulu lahir dibandingkan Sulsel. Kami lebih dulu mengenyam garam organisasi, makanya dulu kurang harmonis dengan Mada SULSEL. Jelas Sekretaris, Ir Andi Aris Mangga.

Sekretaris Pinrang yang ikut Rapat Mosi Tidak Percaya terhadap Irwan Adnan, Ketua Mada Sulsel, menambahkan kami kecewa dengan sikap sebagai ketua tak menghargai aturan organisasi. Dari dulu, persyaratan bertandatangan ketua dan sekretaris. Atau wakil ketua dengan Sekretaris atau ketua dan Wakil Sekretaris untuk menjaga Dwi Tunggal dalam organisasi. Tidak pernah dalam Laskar, bertandatangan ketua saja sendiri. Ini menunjukkan ada tendensi berorganisasi. Kasian, padahal Scan tanda tangan bisa membantu. Tidak boleh sendiri bertandatangan.

Beberapa kali ke Makassar berkunjung, tidak pernah ketemu ketua. Handphonenya tidak pernah diangkat. Dia juga tak pernah ada Sekretariat di Jl Anuang 34. Lucunya, Markas ini tidak seperti markas LMP. Tertutup sepanjang hari, sehingga tak ada waktu untuk silaturahmi dengan pengurus Mada, apalagi Ketua, jangan mimpi ketemu. Jengkel nadanya

Coba bandingkan dengan aktivitas di Pintu Air, Petojo dan Jatinegara, Ketua Umum setiap saat bisa ditemui setiap saat. Bahkan sampai jam 2 kalau kita penting. Beliau menganggap silaturahmi dengan Saudara seluruh Indonesia sebagai tanggung jawab sebagai ketua. Besar volume suaranya pertanda emosi ditahan.

Ketum H. Adek Erfil Manurung SH dan M. Arsyad Cannu, Ketua Harian Mabes LMP sempat mengunjungi Marcab Pinrang dan terus ke Enrekang , Tana Toraja dan Toraja Utara. Dengan ketidakhadiran ketua Mada
Sulsel dengan berbagai alasan. Padahal jauh jauh ke Pinrang di kampung Ketua Harian, seharusnya sebagai Ketua, dia seharusnya menempel Ketum setiap saat sampai pulang ke Jakarta. Harapnya Sekretaris Pinrang.

Memangnya LMP milik pribadi ketua, sehingga ditutup setiap saat. Atau kita dianggap pencuri yang datang di Sekretariat. Kami yang datang dari kampung atau Daerah bagaimana mana harapkan bermalam di Sekretariat jika tertutup setiap saat. Kami kecewa berat dengan perlakuan Mada dan Ketua Mada yang tidak pernah menemui Ki. Tambahnya

"Bagaimana kami melaporkan ada sesuatu dan hal yang penting dengan menelpon, kakinya ditutup jika tahu nomor pengurus dari daerah. Bagaimana ketua begini yang dipercayai ini memimpin kalau tidak mampu berkomunikasi." Kata pengusaha ini

Ia menghabiskan pembicaraannya dengan harapan nantinya Ketua pengganti dapat menerima setiap saat seperti Ketum. Ia juga harus memiliki menemaninya untuk berdiskusi. Selain itu, ketua baru harus meluangkan waktu ke daerah untuk road show untuk melihat kami di daerah

Sabtu, 06 Mei 2017

IRWAN ADNAN DIDUGA TERLIBAT PUNGLI

Perhimpunan Mahasiswa Independen Indonesia (PERMAHII) menyikapi indikasi yang kuat terjadinya Korupsi di Jajaran Walikota Makassar di Kejaksaan Tinggi Sulawesi Selatan pada Kamis 4 Mei 2017.

Jendral Lapangan PERMAHII Adil Sukifli mengingatkan bahwa Barang siapa dengan maksud untuk menguntungkan diri sendiri atau orang lain secara melawan hukum, memaksa orang lain dengan kekerasan atau ancaman kekerasan, untuk memberikan sesuatu barang,  yang seluruhnya atau sebagian adalah milik orang lain, atau supaya memberikan hutang maupun  menghapus  piutang, diancam, karena pemerasan, dengan pidana penjara paling lama sembilan tahun.

Adil Sulkifl bersama temannya menyampaikan orasi terkait pernyataan sikap  di depan pintu Kajati Sulsel menyampaikan ke publik bahwa ketentuan Pasal 365 ayat (2), ayat (3) dan ayat (4) berlaku dalam tindak pidana ini.  Unsur-Unsur yang ada di dalam  ketentuan  Pasal 368 KUHP. Jelas konsekuensinya jika terbukti perbuatan pada akhirnya sebagai pejabat publik, Kepala Dinas Pendapatan Daerah Makassar, Irwan Adnan akan mendekam dihotel  prodeo 9 tahun akibat pemerasan.

Untuk daripada itu demi kebersihan suap menyuap dalam tubuh birokrasi Makassar dalam hal ini, Irwan R Adnan,  maka sesegera mungkin untuk di usut kasus tersebut, ancam Adil Sulkifl dengan tegas.

Kamu juga prihatin jika betul rumor ini, maka harus segera diproses secara hukum. Apalagi, Irwan Adnan selain adalah kepala dinas, dia adalah ketua ormas Laskar Merah Putih Sulawesi Selatan yang seharusnya jadi penyanyi masyarakat. Tentu akan membuat malu Ormas yang konsen Anti Korupsi. Teriak Adil Sulkifl yang mengaku juga sebagai salah satu pengurus LMP SULSEL.

"Kami dari Perhimpunan Mahasiswa Independen Indonesia dengan ini menyatakan sikap sebagai berikut :

MENDESAK KEJATI SULSELBAR UNTUK SEGERA MEMERIKSA IRWAN R ADNAN SELAKU KADISPENDA KOTA MAKASSAR ATAS KASUS SUAP DAN PEMERASAN.
MENDESAK WALIKOTA MAKASSAR UNTUK SEGERA MENCOPOT IRWAN R ADNAN DARI JABATANNYA.

MENDESAK KEJATI SULSEBAR MENGAMBIL ALIH KASUS INI DIKARENAKAN PIHAK POLRESTABES TIDAK MAMPU MENYELESAIKAN MASALAH TERSEBUT.

Demikian pernyataan sikap ini kami buat, jika dalam waktu 3 x 24 jam tuntutan kami tidak terpenuhi maka kami akan melakukan aksi unjuk rasa dengan jumlah massa yang lebih besar lagi.

Kronologi Pemerasan
Kasus PEMERASAN / SUAP yang menyeret kepala Kadis nomor Sato di Makassar ini, IRWAN ADNAN ,pertama tama terjadi transaksi jual beli rumah dijalan bontolempangan pemilik tempat seorang Dokter ingin menjual lokasinya dan pembeli dari jakarta sinkat cerita mereka telah sepakat menjual dan membeli pihak ke3 yg mempasilitasi mendapatkan fee 100 juta.

Proses berlanjut yaitu balik nama pemilik merubah akte ini harus ke kantor Dispenda Kota Makassar dengan di urus oleh pihak ke 3 (2 orang Wanita salah satunya bernama ibu Yuli).

Pihak ke3 inilah yang megurus akte balik nama tersebut yang prosesnya mereka di tolak di TTD (validasi) oleh Irwan adnan sebagai Kadispenda makassar dengan alasan bahwa nilai trangsaksi jual beli 4.m itu terlalu murah sebab dilokasi tersebut nilai tanah sangat tinggi dan Irwan berkata padahal nilai trangsasksi senilai 4.m itu sudah sesuai NJOP dan aturan bahkan di atas nilai NJOP tetapi tetap saja kata Pak Kadis AH ini tidak benar melalui orang kepercayaannya Ansar dan Opa Sofyan bahwa harus di naikkan nilai transaksinya dari 4. m menjadi 8.m (berarti nilai pembayaran pajak PBHTB nya bertambah). karena merasa tidak ada jalan lain dan tak berdaya ditambah pihak pembeli akan segera kembali lagi ke Jakarta maka dengan terpaksa pihak ke 3 ini mengikuti keinginan Kadispenda yang disampaikan oleh Ansar & Opa Sofyan orang kepercayaan bpk pak Kadispenda

Setelah di setujui maka pembayaran pajak PBHTB nya senilai 400 juta lebih diserahkan sore hari kepada Ansar dan Opa Sofyan lalu ke 2 orang kepercayaan kadis ini masuk ke ruangan kadispenda tedak lama berselang mereka memberikan berkas yang telah di validasi (TTD) oleh kadispenda senilai 6.m padahal permintaan awal mereka senilai 8m. setelah ditanyakan katanya 100 juta untuk pak kadis sisanya 300 juta saja yang dibayar di pajak dengan nilai transaksi sebesar 6.m. dan mereka berkata bahwa yang 100 juta itu kata pak kadis untuk MEMBANTU KEMBALIKAN DANA KAMPANYE PAK WALIKOTA (DANNY POMANTO) YANG TERPAKAI PADA WAKTU PEMILIHAN WALIKOTA KEMARIN.

dengan terpaksa pihak ke 3 menerima berkas tersebut dan melaporkan ke pada Notaris.

Mendengar dan melihat ini Notaris Frans menyampaikan kepada asosiasi Notaris dan para notaris ini menghubungi langsung Bapak Walikota Makassar lalu terjadilah pertemuan hingga jam 1 malam di rumah jabatan Walikota Makassar dan Walikota Berjanji akan menindaki segera laporan tersebut.

Laskar Merah Putih

Jumat, 05 Mei 2017

Gaki Press

Meski Divonis 3 Tahun 6 bulan lalu, Sekda Torut belum dieksekusi dan malah membekingi lagi Praktek Illegal Logging

Makassar, Berdasarkan Press Conference Gerakan Anti Korupsi Indonesia GAKI) di Makassar, 5 Mei 2017 , bahwa Majelis Hakim Mahkamah Agung (MA) telah  sepakat menjatuhkan hukuman 3 tahun penjara kepada Sekretaris Daerah (Sekda) Toraja Utara (Torut) EK Lewaran Rantela’bi. MA juga menjatuhkan denda Rp100 juta subsidair 4 bulan penjara.

Menurut Ahli Investigasi dan Advokasi Hari Ananda Gani,SH. bahwa dibawah pimpinan Hakim Ketua, Trisna Harahap dan hakim anggota Artidjo Alkotsar, Syamsul Rakan Chaniago bulat membacakan Putusan Majelis hakim MA yang tertuang  dalam Nomor 392 K/Pid.Sus/2016 tertanggal 3 Oktober 2016. .

Hari mengatakan, Lewaran Rantela’bi terseret sebagai terdakwa dalam kasus korupsi dana ganti rugi pembebasan lahan untuk pengadaan tanah untuk korupsi pembebasan lahan dan pembangunan Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) di Lembang Buntu Tallunglipu Toraja Utara, dengan total anggaran Rp3,4 miliar lebih pada tahun 2012.

Lanjutnya, Sekda Torut itu terbukti melakukan tindakan korupsi dan merugikan keuangan negara sebesar Rp101 juta dengan  modus pada perkara ini adalah terjadi pemotongan dana ganti rugi bagi penerima.

Sedangkan sebelumnya Pengadilan Tipikor Makassar menjatuhkan vonis bebas bagi Lewaran Tantela’bi dari tuntutan Jaksa Penuntut Umum (JPU) dari Kejari Makale yang meminta majelis hakim menjatuhkan hukuman 2,5 tahun penjara. Hari menambahkan.

Ia lagi tambahkan, dalam amar putusan, Majelis hakim MA juga memerintahkan penahanan terhadap Lewaran Rantela’bi. Sebelumnya, pada proses persidangan di Pengadilan Tipikor Makassar, Lewaran sempat menjalani penahanan di Lapas Klas 1 Makassar selama dua bulan lebih.

Lawyer yang memiliki nama Hagan Desperado kecewa karena Sekda  belum menikmati jeruji besi akibat perbuatannya mengkorupsi  anggaran  untuk Pembebasan Lahan dan Pembangunan RSUD.  Sejak sudah divonis MA 3 Oktober 2016 lalu , Sekda masih menikmati udara bebas. Ia bahkan masih menjalani aktivitas sehari hari sebagai Sekda seolah tak ada masalah hukum yang harus di selesaikan.

Sementara itu Ahli Hukum, Busman Muin SH menyebutkan  beberapa hal harus diperhatikan aparat hukum terkait dengan masalah ini .

Kepala Kejaksaan Negeri (Kacabjari) Rantepao Abdul Rahmat Seperti tidak serius bekerja untuk menegakkan hukum tanpa pandangan bulu. Kata Busman Muin kepada media

Sejak 3 Oktober 2016, 6 bulan yang lalu belum dieksekusi oleh Kacabjari, untuk dijebloskan ke Rutan Makale atau Rutan Makassar. Malah Sekda ini membekingi praktek Pembalakan Liar didaerahnya hutang lindung. Terkenal sebagai Joker Merah di Torut yang tak ada menyentuhnya dari pelanggaran hukum yang dilakukannya. Lanjutnya mengambil bahas.

Busman melihat kehadiran KAJATI ke Tanah Toraja dan Torut, bukan semakin memberikan angin segar bagi penegakan hukum. Buktinya , saat menerima gratifikasi dari 2 bupati di Toraja, ia tak memiliki gebrakan dalam penegakan. Ia malah tidak mengeksekusi Sekda Torut.

Busman Muin membeberkan bahwa Aktivis Korupsi dan Aktivis Lingkungan makin kecewa dengan tindak tanduk Kajati. Semakin menurun prestasi aparat hukum dalam menegakkan hukum atau law enforcement. Toraja merupakan surga pelanggar hukum di negeri ini.
Kami mengharapkan KEJAGUNG untuk mencopot Kejati Sulsel, karena kontradiktif dengan harapan masyarakat dalam penegakan hukum.

Sementara Ketua GAKI, Gajamada Harding, yang pada akhir sesi memberikan beberapa ultimatum. Pertama, agar segera dalam waktu sesingkat singkat Kacabjari Rantepao Abdul Rahmat dapat menjebloskan Lewaran Tantela’bi. Kedua, dalam waktu 1 Minggu apabila tidak mampu mengeksekusi Sekda, sudah harus dicopot Abdul Rahmat karena tak mampu menegakkan hukum di TORUT.

Selanjutnya, ketiga kami meminta  Kajati Sulsel untuk segera mengambil alih eksekusi yang tertunda sejak 6 bulan yang lalu dari Kacabjari Torut.

Dan ia menutup bahwa Kami memberi waktu 1 Minggu kepada Kajati Sulsel untuk mengeksekusi Sekda. Jika tidak mampu kami minta di copot juga, karena riskan terjadi Konflik Kepentingan. Kejati Sulsel dan Sekda Torut sama sama berasal dari Toraja

                

Rabu, 03 Mei 2017

Kekecewaan Soppeng terhadap Irwan Adnan sudah lewat Takaran

Soppeng, Merah Putih. Polemik kepemimpinan Irwan Adnan selaku Ketua Markas Daerah Laskar Merah Putih Provinsi Sulawesi Selatan yang goyang akhir – akhir ini. beberapa markas cabang nyatakan mosi tidak percaya atas kepemimpinannya, salah satunya adalah Markas Cabang Kabupaten Soppeng. Senin (01/05/2017)

Abd. Azis Matto, S.IP, Ketua LMP Markas Cabang Kabupaten Soppeng saat dikonfirmasi via selulernya mengatakan “benar memang kami menyatakan mosi tidak percaya, alasannya karena Ketua Mada LMP Sul Sel tidak pernah berkomunikasi ataupun silaturahmi dengan kami di daerah. Bahkan di waktu kami mengadakan Musyawarah Cabang, beliau tidak berkenaan hadir di acara kami, padahal kami sudah bersurat resmi. Hanyalah Gadjamada Harding selaku sekretaris Mada Sul – Sel dan beberapa jajaran pengurus harian lainnya yang menyempatkan hadir membuka resmi forum tertinggi LMP yang kami adakan di kabupaten soppeng” ungkapnya.

Tak hanya itu, kekecewaan pengurus Marcab Soppeng terhadap ketua Mada LMP Sul – Sel dilanjut dengan pernyataan Irwan Adnan yang melarang pengurus marcab soppeng mendukung pendiri LMP di Kabupaten Soppeng yaitu Andi Kazwadi Razak, SE pada pilkada tahun 2015 yang lalu.

Panglima LMP Kabupaten Soppeng Andi Mapparewe Akbar Singke, S.IP menambahkan, “yang kami persoalkan pada pilkada kemarin adalah kenapa kami dilarang mendukung pendiri LMP di Soppeng untuk maju pada pilkada, sedangkan di kabupaten Gowa diketahui Markas Daerah yang turun langsung mengawal salah satu kandidat bupati. Apakah karena keluarga ketua mada sul sel maju pilkada sebagai wakil bupati pada saat itu sehingga hanya Gowa yang menjadi spesial untuk di dukung oleh LMP.”tambahnya.

Diketahuinya bahwa mosi tidak percaya LMP sul – sel dan beberapa markas cabang yang lain di daerah sulawesi selatan ini sudah ditembuskan ke Mabes LMP beberapa hari yang lalu. Mabes LMP yang menerima surat tersebut dengan segera memanggil Irwan Adnan selaku ketua mada LMP sul – sel untuk memberikan jawaban atas mosi tidak percaya yang disampaikan oleh beberapa marcab kabupaten kota dan pengurus harian LMP sul– sel. (*)